uefau17.com

Mekanik Pria Tersedot Mesin Pesawat Jet Boeing di Bandara Iran, Ini yang Terjadi Selanjutnya - Global

, Konarak - Seorang mekanik tersedot ke dalam mesin jet Boeing yang sedang beroperasi dan terbunuh karena lupa alatnya dan kembali mengambilnya.

Melansir Metro.co.uk, Rabu (10/7/2024), saat kejadian nahas itu Abolfazl Amiri sedang melakukan pekerjaan pemeliharaan rutin pada pesawat 737-500 setelah penumpang dan awak turun usai penerbangan mereka dari Teheran, Iran.

Area aman telah disiapkan di sekitar mesin sesuai kebutuhan, namun Amiri dilaporkan kembali ke sana untuk mengambil alatnya yang tertinggal pada 3 Juli 2024 lalu.

Cover flaps atau bagian penutup mesinnya secara tidak sengaja tak ditutup, yang berarti dia bisa terseret ke dalam mesin CFM56 yang sedang beroperasi dan kemudian terbakar, kata surat kabar Bild.

Petugas pemadam kebakaran segera tiba di bandara internasional Chabahar Konarak di Iran selatan dan memadamkan api dengan air, lalu menemukan jasad Amiri.

Pesawat berusia 26 tahun yang dioperasikan oleh maskapai domestik Varesh Airlines lalu dilarang terbang untuk perbaikan, dan penyelidikan atas kecelakaan tersebut diperintahkan oleh otoritas penerbangan Iran.

Situs informasi keselamatan penerbangan JACDEC memposting tentang insiden tersebut, mengatakan: insinyur tersebut ‘meninggal seketika’ saat mengerjakan mesin sebelah kanan.

Sebelumnya, insiden lain di mana pekerja bandara tersedot ke dalam mesin pesawat pernah terjadi pada bulan Mei. Saat itu seorang pria tewas di dalam mesin KLM Cityhopper Embraer di Bandara Schipol di Amsterdam saat berada di depan landasan. Insiden ini diketahui sebagai bunuh diri setelah dilakukan penyelidikan, karena polisi mengatakan pria tersebut "sengaja naik ke mesin.

Insiden fatal lainnya terjadi pada tahun 2023, ketika ibu tiga anak Courtney Edwards mendekati mesin pesawat yang sedang menyala di Bandara Regional Montgomery di AS saat bekerja sebagai ground worker atau pekerja darat, dan tersedot ke dalam.

* Follow Official WhatsApp Channel untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 4 halaman

Masker Oksigen di 2.600 Pesawat Boeing 737 Disebut Berpotensi Bermasalah, FAA Instruksikan Inspeksi

Boeing kembali jadi sorotan belakangan ini. Administrasi Penerbangan Federal (FAA) telah mengeluarkan perintah untuk memeriksa 2.600 pesawat Boeing 737, termasuk model 737 MAX dan Next Generation, karena potensi masalah pada tali penahan masker oksigen penumpang.

Mengutip VOA Indonesia, Selasa (9/7/2024), inspeksi ini dipicu oleh laporan tentang pergeseran generator oksigen unit layanan penumpang dari posisi aslinya. Pergeseran ini dapat mengganggu kemampuan pesawat dalam menyediakan oksigen tambahan kepada penumpang selama situasi darurat seperti turbulensi.

Boeing, raksasa produsen pesawat AS itu telah mengakui bahwa perekat baru yang diperkenalkan pada tali penahan generator oksigen pada Agustus 2019 dapat menyebabkan pergeseran hingga tiga perempat inci dalam kondisi tertentu. Sebagai solusi, Boeing meminta maskapai untuk mengganti tali penahan tersebut dengan yang menggunakan perekat lama.

"Kami kembali menggunakan perekat asli untuk semua pengiriman baru guna memastikan generator tetap terpasang dengan benar sesuai tujuan," kata Boeing.

Meski demikian, FAA tetap memerintahkan inspeksi terhadap seluruh armada Boeing 737 yang beroperasi. Maskapai penerbangan diwajibkan untuk melakukan inspeksi visual umum dan, jika diperlukan, mengganti generator oksigen dengan yang baru atau yang dapat diservis.

"Arahan kelaikan udara kami segera berlaku dan memerlukan inspeksi dan tindakan perbaikan jika diperlukan dalam 120 hingga 150 hari terhadap seri 737," kata FAA.

Adapun perintah ini juga melarang maskapai penerbangan memasang suku cadang yang berpotensi cacat dan mewajibkan mereka memasang bantalan termal, serta memindahkan posisi generator oksigen yang terdampak.

Setiap Boeing 737 sejatinya dilengkapi dengan 61 generator oksigen, dan setiap generator memiliki dua tali penahan. FAA menekankan pentingnya inspeksi ini untuk memastikan keselamatan penumpang dalam situasi darurat.

 

3 dari 4 halaman

Boeing Mengaku Salah Soal Kecelakaan Pesawat 737 MAX di Indonesia dan Ethiopia, Bakal Bayar Denda Lagi Rp3,9 Triliun

Sementara itu, perusahaan Boeing pada Senin (8/7/2024) mengatakan pihaknya telah “mencapai kesepakatan” dengan Department of Justice (DoJ) atau Departemen Kehakiman AS mengenai dua kecelakaan fatal armada Boeing 737 MAX lebih dari lima tahun lalu, salah satunya terjadi di Indonesia.

“Kami pada prinsipnya telah mencapai kesepakatan mengenai resolusi dengan Departemen Kehakiman, tergantung pada peringatan dan persetujuan persyaratan tertentu,” kata Boeing kepada AFP dalam sebuah pernyataan yang dikutip Selasa (9/7).

Kesepakatan itu dicapai setelah jaksa penuntut menyimpulkan bahwa raksasa penerbangan tersebut melanggar penyelesaian sebelumnya dalam menangani bencana tersebut, yang menewaskan 346 orang di Ethiopia dan Indonesia.

Sejumlah sumber mengatakan kepada AFP pekan lalu bahwa Boeing berada pada tenggat waktu untuk menerima atau menolak proposal DoJ yang mengharuskannya mengaku bersalah atas penipuan selama sertifikasi pesawat Boeing seri MAX.

Kesulitan hukum terbaru Boeing dipicu oleh keputusan Departemen Kehakiman AS pada pertengahan Mei bahwa perusahaan tersebut mengabaikan deferred prosecution agreement (DPA) atau perjanjian penuntutan yang ditangguhkan tahun 2021 dengan tidak memenuhi persyaratan untuk meningkatkan program kepatuhan dan etika setelah Boeing MAX jatuh.

Keluarga korban pesawat Boeing MAX "sangat kecewa" dengan kesepakatan yang dicapai antara Boeing dan DoJ, kata seorang pengacara di Clifford Law yang mewakili mereka.

“Lebih banyak bukti telah disajikan selama lima tahun terakhir yang menunjukkan bahwa budaya Boeing yang mengutamakan keuntungan di atas keselamatan tidak berubah. Perjanjian pembelaan ini hanya semakin menyimpang dari tujuan perusahaan,” kata mitra senior Robert A. Clifford dalam sebuah pernyataan.

Melansir Associated Press (AP), dalam pengajuan kasus hukum pada Minggu (7/7) malam – beberapa menit sebelum batas waktu tengah malam – Departemen Kehakiman AS mengungkapkan perjanjian tersebut dan mengatakan tuduhan penipuan tersebut adalah “pelanggaran paling serius yang dapat dibuktikan” yang dapat diajukan terhadap Boeing. Jaksa mengatakan Boeing akan membayar denda lagi sebesar $243,6 juta atau sekitar Rp3,9 triliun, setara dengan denda yang dibayarkan pada tahun 2021 untuk kejahatan yang sama.

Boeing akan dikenakan hukuman kejahatan jika pihaknya menindaklanjuti kesepakatan dengan jaksa untuk mengaku bersalah atas penipuan sehubungan dengan persetujuan 737 MAX sebelum dua pesawatnya jatuh, menewaskan 346 orang di lepas pantai Indonesia dan di Ethiopia.

Raksasa kedirgantaraan Amerika disebutkan telah memperhitungkan bahwa mengakui kejahatan lebih baik daripada melawan tuduhan dan menjalani persidangan yang panjang di depan umum. Namun, kesepakatan pembelaan belum merupakan hal yang pasti.

Adapun kerabat dari beberapa penumpang yang meninggal telah mengindikasikan bahwa mereka akan meminta hakim federal di Texas untuk membatalkan perjanjian tersebut, yang menurut mereka terlalu lunak mengingat banyaknya nyawa yang hilang. Mereka menginginkan pengadilan, mereka menginginkan denda yang besar, dan mereka ingin para pemimpin Boeing menghadapi tuntutan.    

4 dari 4 halaman

CEO Boeing Dave Calhoun Mau Mundur di Tengah Sorotan Soal Keselamatan

Di tengah badai yang menimpa Boeing, CEO perusahaan tersebut, Dave Calhoun mengatakan akan mengundurkan diri pada akhir tahun ini. Keputusannya di tengah krisis yang berkembang terkait reputasi keselamatan perusahaan.

Boeing juga mengumumkan bahwa CEO divisi penerbangan komersial akan segera pensiun, dan pimpinannya tidak akan mencalonkan diri untuk dipilih kembali.

Boeing sedang jadi sorotan ketika, sebuah pintu yang tidak terpakai meledak dari pesawat Boeing 737 MAX tidak lama setelah lepas landas pada Januari lalu. Kejadian ini memberikan tekanan pada perusahaan.

Meskipun tidak ada yang terluka, standar keselamatan dan kontrol kualitas Boeing sekali lagi dipertanyakan. Banyak komentator percaya bahwa transisi kepemimpinan di Boeing sudah lama dibutuhkan. "Perombakan di tingkat atas diperlukan," kata Stewart Glickman Melansir BBC Ditulis Selasa (26/3/2024)

Analis ekuitas di CFRA Research, menambahkan, dia percaya masalah saat ini disebabkan oleh kelemahan dalam budaya perusahaan yang hanya dapat diperbaiki dengan wawasan baru.

"Saya rasa Anda tidak dapat mengubah budaya dengan suara internal karena saya rasa hal ini sudah terlalu lama terjadi di perusahaan ini," kata dia.

Calhoun menjadi CEO Boeing pada awal 2020, menggantikan Dennis Muilenburg, yang diberhentikan setelah salah satu skandal paling serius di perusahaan tersebut.

Dalam waktu lima bulan, dua pesawat 737 MAX baru hilang dalam insiden yang hampir sama, menewaskan 346 penumpang dan kru.

Analisis awal dari Dewan Keselamatan Transportasi Nasional AS menyimpulkan bahwa empat baut yang dimaksudkan untuk mengencangkan pintu ke pesawat belum dipasang.  

Terkini Lainnya

Tautan Sahabat